Lewati ke konten
Artikel
A group of Muslim women in traditional attire participating in a ceremonial salute outdoors in Indonesia.
Foto: Mufid Majnun / Pexels
Artikel

Adab dan Keutamaan Memuliakan Guru Ngaji dalam Ajaran Islam

Di sudut musala kampung, seorang guru ngaji duduk bersila sambil membetulkan bacaan huruf hijaiyah seorang anak. Suaranya pelan, sabarnya panjang, dan upahnya sering kali hanya doa. Pemandangan sederhana ini menyimpan kedudukan besar dalam ajaran Islam: orang yang mengajarkan Al-Qur’an adalah penerus tugas mulia para nabi.

Sayangnya, tidak semua orang menyadari besarnya jasa guru ngaji. Mereka hadir sejak kita belum bisa membaca, menemani kita mengenal huruf demi huruf, lalu perlahan mengantar kita memahami makna. Sudah selayaknya kita bertanya: sudah cukupkah kita memuliakan mereka?

Kedudukan Guru Ngaji dalam Pandangan Islam

Islam menempatkan ilmu dan orang yang mengajarkannya pada posisi yang sangat tinggi. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11 bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu. Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu bukan hanya mencerdaskan, tetapi juga meninggikan martabat seseorang di sisi Allah.

Rasulullah SAW juga bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari). Hadits ini menegaskan bahwa mengajarkan Al-Qur’an adalah amal yang sangat dicintai Allah, dan orang yang melakukannya layak mendapatkan penghormatan dari umat.

Guru ngaji bukan sekadar penyampai huruf. Ia adalah perantara yang membuka pintu hati kita terhadap kitab suci. Karena itu, memuliakannya adalah bagian dari memuliakan ilmu itu sendiri.

Bentuk Adab Memuliakan Guru Ngaji

Memuliakan guru ngaji tidak berhenti pada ucapan terima kasih. Ada adab-adab nyata yang bisa kita hidupkan dalam keseharian:

  • Menghormati dengan sikap dan tutur kata, baik saat belajar maupun setelahnya.
  • Mendoakan kebaikan untuknya, karena doa adalah bentuk balasan yang paling tulus.
  • Mendengarkan dengan penuh perhatian dan tidak memotong penjelasannya.
  • Menjaga nama baiknya dan tidak merendahkan jerih payahnya.
  • Membantu kebutuhan hidupnya ketika kita mampu, sebagai bentuk syukur atas ilmunya.

Imam Syafi’i pernah berkata bahwa ia tidak pernah tidur dalam keadaan kenyang selama menuntut ilmu, karena ingin merasakan bagaimana gurunya berjuang. Kisah ini mengingatkan kita bahwa adab kepada guru adalah bagian dari keberkahan ilmu.

Mengapa Memuliakan Guru Ngaji Begitu Penting?

Ada beberapa alasan mengapa memuliakan guru ngaji menjadi perkara besar dalam Islam:

  1. Mereka mengajarkan sumber petunjuk hidup, yaitu Al-Qur’an, yang menjadi pedoman menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
  2. Jasa mereka tidak terbatas pada satu generasi, karena ilmu yang diajarkan terus mengalir manfaatnya.
  3. Banyak dari mereka hidup sederhana, bahkan kekurangan, namun tetap istiqamah mengajar.
  4. Memuliakan mereka adalah bentuk syukur kepada Allah atas nikmat bisa mengenal Al-Qur’an.

Ketika kita menghormati guru ngaji, sejatinya kita sedang menjaga keberlangsungan pendidikan Islam di tengah masyarakat. Generasi yang dekat dengan Al-Qur’an lahir dari guru-guru yang dihargai dan didukung.

Menghadirkan Manfaat Nyata untuk Guru Ngaji

Memuliakan guru ngaji tidak harus menunggu kita menjadi orang kaya. Kita bisa mulai dari hal kecil: menyapa dengan hangat, membantu kebutuhan mengajar, atau menyisihkan sebagian rezeki untuk mereka yang berjuang di jalan ilmu.

Salah satu cara untuk ikut menghadirkan manfaat adalah melalui dukungan nyata bagi para guru ngaji yang mengabdi di pelosok, seperti program Ruang Baik yang bergerak dalam kepedulian kepada guru ngaji dan pendidikan Islam. Semangat memuliakan guru ngaji dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kebaikan, termasuk membantu kebutuhan mereka agar tetap semangat mengajar.

Setiap huruf yang diajarkan seorang guru ngaji kepada anak-anak adalah investasi kebaikan yang tidak akan putus pahalanya. Ketika kita turut mendukung mereka, kita sedang menjadi bagian dari rantai kebaikan yang panjang.

Kesimpulan

Memuliakan guru ngaji adalah cerminan hati yang bersyukur dan jiwa yang menghargai ilmu. Mereka adalah orang-orang yang mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengantar kita mengenal Al-Qur’an. Sudah saatnya kita membalas jasa mereka dengan adab, doa, dan dukungan yang tulus.

Mari mulai dari langkah kecil hari ini: hargai guru ngaji di sekitar kita, doakan mereka, dan bila mampu, ulurkan bantuan untuk meringankan beban mereka. Karena dari tangan-tangan merekalah, cahaya Al-Qur’an terus menyala di bumi ini.

Bagikan

Artikel terkait